Rabu, 11 Juni 2014

Menengok kebelakang asal usul manusia

Di dalam ilmu pengetahuan di tuliskan bahwa manusia berasal dari jaman pra sejarah yang dulunya masih berwujut seperti kera bahkan ada yang menyebutkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera tetapi di sisi agama di sebutkan bahwa manusia yang pertama turun ke bumi atau dunia adalah Nabi Adam yang di turunkan dari surga, hal itu adalah sejarah manusia yang di pandang dari sudut pandang yang berbeda dan latar belakang yang berbeda pula.
Di sini Chismed akan mengupas tentang bahan baku serta hubungan manusia dengan alam dan sang PENCIPTA ( Gusti kang moho suci ) 
Di pengertian jawa manusia di ciptakan dari sari pati bumi, lebih jelasnya manusia di ciptakan dari empat bahan baku yaitu Bumi, Banyu, Geni, Angin. dari ke empat bahan tersebut di satukan dan mempunyai peran sendiri sendiri,
*** Bumi sebagai kulit daging tulang.
*** Banyu sebagai darah, otak semua yang berhubungan dengan cairan.
*** Geni sebagai amarah ( sumber panas yang ada pada tubuh manusia ).
*** Angin sebagai keinginan dan kebijaksanaan manusia.
dan manusia itu sendiri di bagi menjadi empat lapisan yaitu :
* Manusia sejati ( manungso sejati ) atau badan kasar
** Nyawa sejati ( nyowo sejati ).
*** Sukma sejati ( Sukmo sejati ) atau kumpulan dari sedolor papat.
****Ruh SUCI ( GUSTI ) 
Selain itu manusia di bagi menjadi tiga bagian yaitu :
* Baitul makmur yaitu berada di atas leher manusia. ( tempat keindahan )
** Baitul Mukharom yaitu tempat yang terlarang bagi selain DIA ( SANG PENCIPTA ) tempatnya di bawah leher di atas pusar manusia.
***Baitul mukhodas tempat yang suci ( pasucen ) yaitu tempat bibit atau wiji ( bibit mannusia )
Sesuai dengan bahan dasarnya manusia di cipataka dari sari pati bumi dan manusia juga makan dari hasil bumi maka manusia jikalau sudah ketemu janji ( Mati ) di haruskan untuk dapat menyatu secara sempurna dengan bumi ( Tanah,) dengan banyu ( air ) Angin ( Udara ) Geni ( Api ) atau yang lebih di kenal dengan mati sampurno kembali ke asal manusia di ciptakan, dan Ruh yang di tiupkan TUHAN ke tubuh manusia secara otomatis akan kembali ke ruh induk yaitu TUHAN ( Gusti kang moho suci ) 
Apakah ini benar dan pasti:
Mari kita buktikan sendiri sendiri dengan pribadi atau kapribaden masing masing kenapa demikian karena hanya diri kita ( setiap orang ) yang bisa membuktikan akan suatu kebenaran yang haq sesuai dengan tiga dasar :
* Yakin : belum tahu akan kebenaran  ( tapi ikut mengiyakan akan suatu kebenaran )
** Ainun yakin : meng iyakan karena pernah melihat sendiri tetapi belum pernah memegang atau merasakan suatu hal )
*** Haqul yakin : meng, iyakan karena pernah melihat pernah merasakan dan pernah mengalami sendiri .
Dengan dasar ini maka mari kita buktikan apakah hal ini benar jangan hanya tembung jare ( katanya ) tanpa merasakan melakukan mengalami tidak akan tahu isi maksud dan hakikatnya,
                 

 

Selasa, 10 Juni 2014

Mengenal dan menguak Sangkan Paran,ning Dumadi

Sangkan paraning dumadi atau yang sering disebut banyak orang sebagai sangkan paran adalah tuntunan jawa yang bertujuan menuntun manusia ( orang jawa ) untuk mencari gusti ( TUHAN ) dengan mengenal alur atau jalan hidup manusia itu sendiri yaitu dengan mencari, mengenal menghayati dan menyadari asal usul atau bahan baku manusia, perjalanan, sikap, penyadaran untuk dapat mengenal atau bertemu dan dapat ke pangkuan,NYA. ( manunggaling kawulo marang gusti )
Apa sebenarnya yang di maksut manunggaling kawulo marang GUSTI !!!
suatu penyadaran manusia, orang jawa pada khususnya bahwasanya , GUSTI ( TUHAN ) ada pada diri manusia bahkan semua makhluk ciptaan, NYA mengapa demikian karena TUHAN telah meniupkan sebagian ruh, NYA kepada semua amklhuk NYA, dan ruh tersebut di kenal oleh orang jawa sebagai ruh suci /Guru sejati, dengan bekal ruh suci tersebut orang jawa meyakini suatu saat nanti pasti dan tidak akan tidak, ruh yang di tiupkan pada setiap maklhuk kususnya orang jawa pasti akan kembali ke induknya yaitu ruh TUHAN, di dalam keyakinan orang jawa hal tersebut tidak harus menunggu mati badanya, tetapi cukup mati rasanya,atau yang sering di sebut dan lebih di kenal dengan sebutan ( mati sak jerune urip) maksutnya ( semedi, meditasi, ngeningno cipto )  dengan sarana ini orang jawa mendekatkan diri bahkan mengenal siapa dan dimana GUSTI ( TUHAN ) nya.
Apa semedi, meditasi, ngening no cipto!!!
Suatu proses penyelaman diri badan kasar ( raga ) dan badan halus ( jiwa ) dan merasakan proses pergerakan atau kerja di dalam tubuh kita, bagaimana rasanya gerakan darah, detakan jantung, keluar masuknya nafas, geloranya nafsu, gemuruhnya hati, ketegangan otak, semuanya kita rasakan kita selami  kita kendalikan kita satukan untuk kita atur kita netralkan agar semua pergerakan atau aktifitas badan dan jiwa kita dapat kita kontrol setiap saat dan setiap waktu,agar kita dapat merasa tenang damai dan dapat mengenali apa yang harus kita lakukan dan kendalikan pada saat ini.,
 ini yang saya sebut dengan penyadaran. 
Apa itu penyadaran !!!
Penyadaran adalah suatu sikap intropeksi  suatu hal yang di fikirkan, di ucapkan, dan yang di lakukan seseorang secara terus menerus dan berkesinambungan dan di jawa di sebut ( benahi fikiran, benahi ucapan, benahi tumindak ) jadi penyadaran bertujuan untuk menata seseorang untuk selalu eling dan waspada ( eling lan waspodo ) akan apa yang harus dan telah kita lakukan, baik pada orang lain ataupun pada diri kita sendiri,
Apa manfaat dari penyadaran :
Kita merasa damai karena kita bisa mengendalikan apa yang ada pada diri kita baik hidup ataupun kehidupan pribadi,kita, dan penyadaran adalah sarana yang lain selain meditasi yaitu menata otak agar
   senantiasa terjaga dari kotoran otak,  melamun, menghayal, membayangkan, karena hidup bukan untuk merdeka tetapi hidup adalah untuk berjuang, baik berjuang untuk hidup ataupun  kehidupan.
Inilah sangkan paran, sangkan paran bukan ilmu melainkan ngelmu tidak pelu puasa tidak pelu bertapa dan tidak untuk sakti tetapi sangkan paran adalah sebuah pengetahuan, penyadaran dan tuntunan untuk kembali menyatu antara  manusia dengan sang PENCIPTANYA. 

                                       ( ojo salah pangerti )